Deskripsi
Penulis: Dome
Tebal: 65 halaman
Udara malam di sekitar kampus terasa membeku ketika Yudhis melangkah kembali demi dompetnya yang tertinggal di ruang kelas. Di bawah sorot temaram lampu pos penjagaan, Wondo menyambutnya dengan postur kekar yang menindih—seragam ketatnya menonjolkan setiap lekuk kejantanannya, lengkap dengan tonjolan besar di balik celana yang terang-terangan mengintimidasi. Tawaran satpam paruh baya itu untuk menemani Yudhis menyusuri lorong fakultas yang sepi seharusnya menjanjikan rasa aman. Namun, saat mereka berjalan beriringan melewati koridor sempit, tiap gesekan tak sengaja di antara tubuh mereka justru memercikkan ketegangan baru. Ada aura dominasi pekat yang menguar dari balik seragam ketat pria itu, mengunci Yudhis dalam jerat pesona yang perlahan melumpuhkan akal sehatnya.
Desas-desus tentang entitas menakutkan di gedung utama seketika lenyap, tergantikan oleh realitas yang jauh lebih mendebarkan. Di dalam ruang kelas lantai dua yang terisolasi, dinamika mereka berubah drastis. Wondo bukan lagi sekadar penjaga malam yang mengayomi. Saat Yudhis menemukan dompetnya dan melompat memeluk Wondo dalam kegembiraan, tangan satpam itu tak melepaskan pinggangnya. Rengkuhan lengannya yang kokoh, embusan napas hangat yang menyapu leher, dan jemari besar yang meremas bongkahan pantatnya dengan gemas menegaskan bahwa Yudhis telah masuk terlalu dalam ke wilayah sang pria dewasa. Alih-alih melarikan diri, tarikan kasar yang membimbing tangannya menyusup melewati sabuk celana dan menuju batang kejantanan Wondo yang sudah mengeras dengan penuh urat, justru ia sambut dengan kepatuhan.
Ruang kelas yang sunyi ini bersiap menjadi saksi bisu dari sebuah permainan gelap yang menembus batas norma. Ketika pintu tertutup rapat dan udara ruangan terasa kian panas, satu-satunya jalan keluar bagi Yudhis hanyalah membiarkan dirinya melebur sepenuhnya ke dalam setiap tuntutan liar sang penjaga malam.










Review
Belum ada yang kasih review.